Wednesday, 18 January 2017

Mengunjungi "Rumah Hobbit" di Farmhouse Lembang

Awal tahun 2016 lalu, kami sekeluarga pindah (lagi) ke Bandung karena saya melanjutkan kuliah yang sempat terputus selama dua tahun. Wait, 2016? Yes, this is a super duper late post! Maaf jikalau harga-harga yang akan dicantumkan di postingan ini kurang update. ^^"

Selagi Mr. Engineer masih di Indonesia, di suatu weekdays kami memutuskan untuk jalan-jalan bertiga dengan Qboy. Terinsipirasi dari pergidulu, saya mengusulkan untuk pergi ke Farmhouse. Sudah familiar belum dengan nama tersebut? *winks*

Farmhouse merupakan tempat wisata di daerah Lembang yang terkenal dengan spot foto yang cantik dan kekinian untuk diupload ke instagram. Untuk dapat masuk ke area Farmhouse, Anda cukup membayar seharga Rp 20.000,- (yang dapat ditukar dengan susu segar atau sosis bakar).
Sluurp.. :9
Kami bertiga tiba di Farmhouse cukup pagi, sekitar jam setengah sembilan. Setelah duduk-duduk sebentar sambil menikmati susu segar, saya langsung menarik Mr. Engineer ke spot foto paling favorit di Farmhouse: Rumah Hobbit. 'Rumah'nya sendiri tidak bisa dimasuki, ya. Jadi cuma bisa foto-foto di luarnya saja. Lumayan lah, siapa tahu suatu saat nanti bisa ke Rumah Hobbit beneran di New Zealand. :D
Rumah Hobbit (ala ala :p)
Memutuskan untuk langsung mengunjungi Rumah Hobitt di awal kedatangan ke Farmhouse merupakan keputusan tepat. Tidak lama setelah kami meninggalkan spot tersebut, serombongan pengunjung (yang sepertinya baru turun dari bus pariwisata) langsung 'menyerbu' Rumah Hobbit. Setelahnya, (hingga siang) spot tersebut tidak pernah sepi dari pengunjung. Padahal saat itu weekdays. Konon kalau weekend, tempat ini lebih ramai lagi. ^^

Di dekat Rumah Hobbit, terdapat peternakan (sesuai dengan namanya: FARMhouse). Sebenarnya, di peternakan mungil tersebut pengunjung bisa memberi makan kelinci dan biri-biri. Well.. karena kami datang terlalu pagi, wortelnya belum siap. Qboy tidak jadi memberi makan kelinci, deh. ^^"

Kami pun menjelajah spot lain di Farmhouse. Areanya sendiri relatif mungil, tidak menghabiskan waktu lama untuk dijelajahi (lebih lama foto-fotonya daripada jalannya). Jalur setapak yang dilalui juga cukup teduh, aman untuk anak kecil, dan dikelilingi pemandangan yang memanjakan mata. Terdapat banyak spot menarik untuk diabadikan dengan kamera.

Hayoo.. dipilih mau ke mana?
Tapi, saya kok nggak nemu Love Lock ya?

"Tadi, udah kelewat. Deket Wishing Well." begitu komentar Mr. Engineer.
"Yah.." saya kecewa. "Balik lagi, yuk!" Bukan karena mau ikut-ikutan masang gembok sih, cuma mau berfoto doang dengan latar pagar yang overload gembok.
"Males, ah." Mr. Engineer cuma menjawab singkat. Dasar nggak peka. -__-

Saya pun mengalah dan kami terus berjalan menuju sebuah koridor bergaya Eropa. Di sekeliling, terdapat cafe-cafe klasik yang dapat dikunjungi. Di salah satu bangunan di sana, pengunjung dapat menyewa kostum ala Belanda. Biar foto-foto di bangunan bergaya Eropanya lebih meyakinkan, gitu. :)
I love the way he took our picture. <3
Ohya, di dekat area tersebut ada yang menjual Croissant dan Danish. Wanginya menguar dan membuat tergoda, jadi saya ajak Mr. Engineer balik kanan untuk membelinya.
Giliran diajak balik kanan untuk beli makanan, Mr. Engineer langsung mengiyakan. :))
Nggak ada fotonya ya, ketiga omnivora ini (baca: pemakan segala) langsung melahap makanannya. Tapi worth it kok, Rp 20.000,- dapat empat buah. Enak dimakan hangat-hangat. :)

Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk cari-cari souvenir walau ujung-ujungnya tidak membeli apa-apa. Haha. Bukan karena harganya mahal sih; seingat saya dengan bermodal sepuluh ribu pun pengunjung bisa membeli sekitar enam magnet kulkas yang lucu-lucu. Tapi.. dari berbagai pilihan buah tangan yang ada, rasa-rasanya kami tidak menemukan yang khas Farmhouse. :)

Overall, kunjungan kami ke Farmhouse (tahun lalu :p) cukup menyenangkan kok.
Selamat berjalan-jalan, semoga di tahun 2017 ini saya lebih giat membuat ulasan. :D

No comments:

Post a Comment